Monday, October 12, 2020

Majalah Sabrina Pondok Pesantren Manahijussadat ; Fokus Utama : Catatan Rihlah Tarbawiyah 2020

Late Post

FOKUS UTAMA

Catatan Rihlah Tarbawiyah 2020

Oleh Yudi Nurhadi, S.Ag,


Santriwan dan santriwati kelas 5 yang tergabung dalam kepengurusan  Organisasi Pelajar Pesantren Manahijussadat (OPPM) dan Koordinator Gerakan Pramuka (KGP) masa bakti 2020-2021 mengadakan rihlah tarbawiyah atau study tour ke Pondok Pesantren Modern Darusalam Gontor Jawa Timur. Selain ke Gontor, rombongan rihlah tarbawiyah   mengunjungi sejumlah lokasi wisata di Yogyakarta, seperti  menikmati suasana Kota Malioboro  jantung kotanya Yogyakarta, Candi Prambananan,  Goa pindul, Tebing Breksi,  dan wisata ke kebun binatang Ragunan Jakarta Selatan.

Dasar pemikiran diadakannya kegiatan rihlah tarbawiyah karena kegiatan tersebut termasuk salah satu program pondok yang wajib diikuti seluruh santri kelas  5 baik putra maupun putri. Kedua, kegiatan tersebut wajib diikuti oleh setiap pengurus OPPM dan KGP dalam rangka pendalaman dan pembekalan terkait dengan kepengurusan, keorganisasian dan kepemimpinan. Ketiga, para pengurus wajib mengikuti rihlah karena kegiatan tersebut merupakan implementasi dari jiwa pondok yaitu ukhuwah islamiyah di mana setiap pengurus memiliki kewajiban  menjalin silaturahmi, menjaga ukhuwah, kekompakan dan kebersamaan.

Pembekalan Rihlah Tarbawiyah

Para peserta rihlah tarbawiyah sebanyak 79 santri terdiri 43 putri dan 36 putra didampingi 7 pembimbing (dar dewan guru) ustaz Yudi Nurhadi, ustaz Furqan Safrijal, ustaz firmansyah, ustaz Misbahul Munir, Ustaz Asep Saehudin, ustazah Siti Bayinah dan ustazah Uun Unayah.

Sebelum pemberangkatan Pimpinan Pondok KH Sulaiman Effendi menyampaikan pengarahan di hadapan para pengurus OPPM dan KGP di Aula Cordova Ponpes Manahijussadat, Ahad (12/1/2020). 

Dalam arahannya Pimpinan Pondok mengatakan Ilmu tidak hanya didapat di kelas. Apa yang dialami seseorang dalam kehidupan juga ilmu. Maka itu, pengalaman adalah ilmu yang berharga.  “Saya berharap rihlah tarbawiyah ini  menjadi rutinitas. Sehingga tidak perlu dibicarakan lagi ada apa tidak. Tujuan kegiatan ini  untuk menambah wawasan dan  menambah pengalamanan,” ujarnya.

KH Sulaiman juga menegaskan, kegiatan rihlah tarbawiyah adalah kegiatan yang langsung observasi ke lapangan. Hal itu dilakukan agar  tidak mencari sesuatu  seperti katak dalam tempurung. Karena itu,  rihlah ini harus  bermanfaat dan tidak sia sia. Apalagi kegiatan studi tour ini, lanjut KH Sulaiman membutuhkan pengorbanan baik tenaga maupun biaya yang sangat besar.

“Sangat keliru jika ada anggapan  rihlah tarbawiyah tidak ada manfaatnya. Sebaliknya kegiatan ini mengandung nilai pendidikan. Di antaranya setiap pengurus dididik  untuk saling menjaga kekompakan selama di perjalanan hingga tiba di lokasi.  Semua pengurus harus taat komando pembimbing. Setiap pengurus  harus mencatat setiap kegiatan, mampu memetik hikmah dari rihlah tarbawiyah ini. Sehingga kembali ke pondok harus ada sesuatu yang positif untuk  diterapkan. Jangan sampai selesai dari studi tour tidak berbekas apa-apa,” terangnya. 

KH Sulaiman menghimbau selama mengikuti rihlah tarbawiyah, para pengurus tidak mencari kesempatan dalam kesempitan. Jangan mencari wasilah untuk melanggar disiplin. Sejatinya setiap pengurus selama mengikuti kegaiatn rihlah harus menerapkan disiplin. Karena di pundak para pengurus ada nama baik pondok yang harus dijaga.

“Baik dan buruk citra pondok tergantung pada sikap kalian. Berbuatlah sebagaimana dikatakan dalam mahfudzat  Kun haditsan hasanan liman wa'a. Buat cerita yang baik. Tetap  dalam koridor akhlaq. Dalam perjalanan nanti, jangan meninggalkan sholat. Jaga kekompakan dan saling bantu membantu. Kegiatan  ini merupakan kesempatan untuk menjalin ukhwah, kebersamaan. Jangan ada yang merasa hebat sendiri,” pesan KH Sulaiman di akhir sambutannya.

Pelepasan Rihlah Tarbawiyah

Sementara itu, sebelum melepas kegiatan rihlah tarbawiyah, Direktur Tarbiyatul Mualimin Al-Islamiyah (TMI) Ustaz Hasan Asyari, M.Pd.I menyampaikan pentingnya menguatkan niat para pengurus OPPM dan KGP tentang tujuan kegiatan study tour.

“Niat utamanya adalah untuk belajar, menuntut ilmu, li ta'alumi,” demikian tegas ustaz Hasan Asyari pada acara Penglepasan rihlah tarbawiyah Pengurus OPPM dan KGP di Aula Cordova, Rabu (14/1/2020) malam.

ustaz Hasan mengatakan niat rihlah tarbawiyah untuk belajar organisasi. Setelah mengikuti rihlah kinerja Pengurus OPPM dan KGP  harus ada peningkatan. Kalau tidak,  lanjut ustadz Hasan, kegiatan yang mengeluarkan biaya banyak ini hanya sia-sia.

"Kalau setelah rihlah Pengurus OPPM dan KGP tidak ada peningkatan, kinerjanya masih sama dengan pengurus sebelumnya. Lebih baik tahun depan Rihlah ditiadakan," terang ustaz Hasan

Diakhir sambutan ustaz Hasan menegaskan agar para pengurus  mengikuti kegiatan rihlah ini secara serius. “Amati dengan baik, banyak bertanya dan catat setiap kegiatan rihlah sehingga bisa menambah wawasan dan pengalaman berharga" imbuhnya.

Ponpes Darusalam Gontor Putra

Usai mengikuti acara pelepasan, para pengurus menerima topi, kaus dan buku agenda. Selanjutnya para pembimbing mengintruksikan agar sebelum beristirahat para pengurus memeriksa dan menyiapkan barang bawaan. Dini hari Sekira pukul 2.00 Wib peserta rihah tarbawiyah dan segenap pembimbing berkumpul di Kandang Numpang tempat mangkalnya dua bus travel yang siap mengatarkan ke tempat tujuan. Di dalam bus para pengurus duduk secara terpisah. Satu bus untuk putri/santriwati dan di bus berikutnya untuk santri putra.  Selama di perjalanan masing-masing bus  dipandu Tour Leader dari pihak Maha Tours dan Travel yang juga alumni Manahijussadat, yaitu  Fahri Junaedi  dan  Azmi Fadhil Ramdhani.

Kamis, (15/1/2020) pukul 23.00 bus rihlah tarbawiyah tiba di Pondok Pesantren Darusalam Gontor Putra Jawa Timur. Setiba di sana para pengurus dan pembimbing langsung menuju wisma penginapan. Setelah salat subuh pengurus OPPM dan KGP putra melakukan safari ke asrama santri putra yang dipandu oleh ustaz Furqan Safrijal. Kegiatan ini dilakukan untuk meninjau aktifitas santri sebelum berlangsungnya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Sementara Pengurus OPPM dan KGP Putri juga bersafari ke lokasi yang sama  dipandu oleh ustaz Habibi Zawariqi Zawwaz . Namun kunjungan ini tidak berlangsung lama karena waktunya sangat terbatas dan tidak diperbolehkan berbaur dengan santri putra.

 Usai sarapan pagi sekitar pukul 10.00 pengurus OPPM dan KGP ponpes Manahijussadat disambut baik oleh Pimpinan Pondok Modern Darusalam Gontor yang diwakili oleh guru senior ustdz Firdaus. Kegiatan penyambutan dan penerimaan rihlah tarbawiyah dilangsungkan di Masjid Jami'.

Dalam sambutanya ustadz Yudi mengatakan tujuan kegiatan rihlah ini untuk  menyambung tali silaturahmi dan menuntut ilmu tentang kepengurusan dan keorganisasian OPPM dan KGP. "Kegiatan rihlah ini merupakan program pondok yang wajib diikuti oleh setiap santriwan dan santriwati khususnya  kelas 5 yang telah dilantik menjadi pengurus OPPM dan KGP. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan lilibadah walita'alumi,  untuk beribadah dan belajar. " katanya.

Sementara itu Ustaz Firdaus  mengaku mengapresiasi  kunjungan pengurus OPPM dan KGP Ponpes Manahijussadat di Pondok Modern Darusalam Gontor. "Terimakasih atas kunjungan antum semua. Kami ucapkan ahlan wasahlan bikudumikum ilal ma'had asyarif ," katanya.

Dalam sambutannya Ustaz Firdaus mengatakan, pondok Gontor mempunyai lima kekuatan, pertama kekuatan dari Allah Swt. Kedua mempunyai jiwa filsafat. Ketiga, mempunyai nilai dan ajaran. Keempat adanya kegiatan-kegiatan (belajar dan mengajar). Kelima, mempunyai kedisiplinan.

“Oleh karena itu, pondok harus banyak kegiatan/aktifitas, seperti di kelas, asrama, masjid dan tempat-tempat lainnya. Taharok faina fil harokah barokah,” ujar ustaz Firdaus

Ustaz Firdaus menambahkan jangan sampai kehidupan santri di pondok tanpa  ada kegiatan. Jangan sampai hari-hari santri berjalan tanpa ibadah, hidayah, kerja keras dan dakwah.  Maka itu kegiatan rihlah tarbawiyah harus digunakan sebaik-baiknya.

“Gunakan waktu rihlah ini sebaik baiknya. Catat apa yang antum dengar, lihat dan rasakan. Semua  harus mengandung nilai pendidikan,” imbuhnya.

Usai sambutan kegiatan dilangsungkan dengan tanya jawab antara pengurus OPPM dan KGP dengan Ustaz Firdaus. Kemudian  dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata dari Gontor ke Ponpes Manahjisuddat dan begitu sebaliknya.  Di waktu yang sama sebelum melanjutkan kunjungan ke Gontor Putri, semua Pengurus OPPM dan KGP menyambangi Universitas Darusalam (Unida).

Selama satu hari penuh pada Jumat (17/1/2020) di Gontor Putra, masing-masing  Pengurus Putra Manahijussadat  meninjau dan  sharing bersama para pengurus OPPM dan KGP Gontor Putra. Mereka pengurus putra mencatat semua kegiatan-kegiatan OPPM dn KGP Gontor sesuai dengan bagaiannya. Kegiatan lainnya setelah sharing dengan pengurus di sana, yaitu  meninjau unit-unit usaha pondok. Kemudian untuk menjalin ukhuwah, antara pengurus dari Manahijussadat dan pengurus Gontor mengadakan kegiatan tanding persahabatan, seperti sepak bola dan olahraga futsal.   

Ponpes Darusalam Gontor Putri

Selepas salat dhuhur dan makan siang Pengurus OPPM dan KGP Putri langsung melanjutkan kunjungan ke Pondok Pesantren Gontor Putri, Mantingan, Ngawi dengan  Jarak tempuh  sekitar 100 km. Sebelum ashar rombongan rilah tarbawiyah  Putri didampingi pembimbing ustazah Siti Bayinah, Ustazah Uun Unayah dan Ketua Rombongan Ustaz Yudi Nurhadi beserta istri tiba Gontor Putri 1.

Setiba di sana Rombongan rihlah turun dari bus dan beristirahat di Wisma yang berada di area parkir bersebelahan dengan Masjid Mahronisa. Wisma untuk Pengurus Putri berada di lantai atas, sementara pembimbing dan ketua rombongan di lantai bawah. Saat itu cuaca kurang bersahabat, hujan mengguyuri Gontor putri.

Ba’da isya  semua pengurus dan pembimbing menuju aula Balai Pertemuan. Sambil menunggu Wakil Pengasuhan,  di ruangan ber-AC para pengurus dan dewan guru antusias menyaksikan  tayangan video aktifitas santriwati di Gontor Putri 1. Selang beberapa menit Ustaz Muhammad Suharto hadir dan duduk di meja paling depan didampingi ketua rombongan ustaz Yudi Nurhadi.

Dalam sambutannya ustaz Yudi menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran pimpinan pondok Manahijussadat karena ada kegiatan mengantar dan melepas salah satu kader pondok untuk studi di Pakistan. Dia juga menyampaikan tetang perkembangan Ponpes Manahijussadat  beberapa tahun terakhir.

“Alhamdulillah, sekarang Ponpes Manahijussdat sedang merampungkan asrama tahfidzul quran. Bahkan sudah bekerjasama dengan salah satu travel haji dan umroh, di mana pihak travel tersebut akan memberikan beasiswa umroh gratis bagi santri yang sudah hafal 20 juz,” kata ustaz Yudi. 

Ustaz Yudi juga menyampaikan harapan dan  permohonan terimakasih atas penerimaan kegiatan rihlah tarbawiyah di Pondok Darusalam Gontor Putri 1.

“Kami juga berharap mendapat arahan dan pembekalan terkait dengan keorganisasian dan kepemimpinan untuk santri-santri kami yang baru saja diangkat menjadi pengurus OPPM dan KGP masa bakti 2020-2021,” imbuhnya. 

Ustaz Suharto mengaku mengapresiasi kegiatan rihlah tarbawiyah pengurus OPPM dan KGP Ponpes Manahijussadat. Dia juga menyambut antusias dan penuh kekeluargaan.”Kami ucapkan selamat datang atas kunjungan pengurus OPPM dan KGP dari Ponpes Manahjussadat,” kata Ustaz Suharto di awal sambutannya.

Ustaz Suharto mengatakan pondok itu harus selalu bergerak (beraktifitas) dan harus selalu  lebih baik kemajuannya setiap waktu. Prinsipnya hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hidup itu harus bergerak dan menggerakkan, bermanfaat, berjuang dan memperjuangkan.

“Pondok itu lapangan perjuangan. Pondok Gontor berbeda dengan pondok lain, karena Gontor memiliki fiqroh, fikiran dan ide yang besar. Kedua, memiliki sibghoh (jati diri). Ketiga, memiliki khitoh (program). Keempat memiliki ansyithoh (kegiatan-kegiatan),” ujarnya menjelaskan.

Ustaz Suharto menegaskan pondok harus dibela, dijaga, dipelihara supaya pondok menjadi lembaga pendidikan bermutu. Karena itu di pondok diajarkan keislaman, keilmuan dan kemasyarakatan.

“Dalam hal kemasyarakatan, santri dididik pentingnya beroragnisasi. Melalui kegiatan organisasi santri belajar berani bertanggungjawab.Tetapi  Ingat, di dalam organisasi semua bagian itu penting. Tidak ada satu bagian lebih penting dari bagian yang lain,” tegasnya.

Di akhir sambutannya Ustaz Suharto tidak membuka ruang tanya jawab. Beliau beralasan pondok itu ibarat buku di mana setiap orang bisa membaca secara ril apa yang ada di pondok.

“Semua pengurus OPPM dan KGP Manahijussadat usai acara ini dipersilakan meninjau kegiatan-kegiatan yang ada di pondok Gontor Putri,” katanya.

Malam itu juga  kamis , (16 /1/2020)  pukul 21.30 s/d 22.30  pengurus OPPM dan KGP bersama ustazah Siti bayinah dan ustazah Uun Unayah meninjau kegiatan  Jamiatul khitobat, yaitu kegiatan perkumpulan santriwati yang memiliki talenta di bidang public speaking. Di dalam kegiatan ini santriwati dibina dan dikembangkan kemampuan bicara dalam tiga bahasa: Arab, Inggris dan Indonesia. Diharapkan dari kegiatan ini lahir para orator, mubaligoh, motivator dan lain-lain.

Pada Jumat (17/1/2020)  pukul 06.00 s/d 06.30  para pengurus OPPM dan KGP Putri meninjau kegiatan Fun Friday. Kegiatan tersebut merupakan program  dari bagian bahasa Gontor Putri yang bertujuan  untuk mengembangkan kemampuan santriwati dalam bahasa Arab dan Inggris.  Kegiatan berbahasa Arab dan Inggris tersebut  dilaksanakan di hari Jumat dan dikemas dalam kegiatan yang menyenangkan seperti drama, bernyanyi dan lain-lain.

“Fun Friday itu Jum’at yang menyenangkan. Jadi semua kegiatan di sini untuk pengembangan bahasa asing, Arab dan Inggris. Termasuk lagu-lagu yang dinyanyikan di sini tidak ada yang berbahasa Indonesia. Lagu dan liriknya memang dari bahasa Indonesia tapi diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Inggris,” terang Pembimbing rihlah Ustazah Bayinah usai meninjau kegiatan Fun Friday.

Setelah rampung meninjau kegiatan Fun Friday,  pukul 06.30 s/d 07.30 pengurus OPPM dan KGP Putri melakukan tanding persahabatan dengan  santriwati Gontor untuk cabang olah raga basket, bulu tangkis, dan  senam.  Tepatnya pukul 08.30 usai sarapan pagi, acara  dilanjutkan dengan kegiatan orientasi dan sharing  di mana masing-masing bagian  Pengurus OPPM dan KGP Putri Manahijussadat melakukan  tanya jawab atau bertukar pikiran dengan para pengurus Gontor putri. Kegiatan ini selesai pukul  11.00. Sedangkan  pada  13.30 s/d 15.00  sebagai kegiatan terakhir diisi dengan mengunjungi unit-unit usaha  Gontor putri yaitu : Annisa bakery (unit usaha pembuatan roti), Annisa beverage (unit usaha minuman) dan  annisa Tailor (unit usaha konveksi).

Wisata Budaya Candi Prambanan

Rihlah tarbawiyah di Gontor Putra dan Putri memberi banyak manfaat bagi pengurus. Selama di sana mereka menyasikan dan merekam seluruh kegiatan itu tidak hanya ditampung dalam memori pikiran, tetapi mengabadikannya dalam tulisan. Kegiatan rihlah tidak berakhir  di sini. Pasca kunjungan di Gontor, rihlah dilanjutkan dengan kegiatan wisata budaya menuju Candi Prambanan. Wisata ini selain sebagai refreshing juga untuk mengetahui lebih luas tentang khazanah  budaya nusantra.

Perjalanan ke Candi Prambanan dilakukan setelah solat ashar, Jumat (17/1/2020). Sebelum menginap di Hotel Sunarko, hampir satu jam mampir di Malioboro jantung kota Yogyakarta. Di sana santriwan dan santriwati termasuk pembimbing menikmati suasana malam di Malioboro. Di kota itu sepanjang tepi jalan berderet kios dan kaki lima menjajakan barang-barang murah, mulai dari pakaian, souvenir, tas, panganan dan lain-lain. Tidak sedikit santri putra dan putri merogoh uang sekedar untuk membeli oleh-oleh berupa  kaus bertuliskan Maliobro atau Yogyakarta.

Meski hanya satu jam, puas rasanya menikmati Malioboro. Kemudian pulang menuju penginapan  Hotel Sunarko, penginanpan yang terbilang sangat sederhana milik alumni Gontor. Di sana rombongan studi tour beristirahat dan menikmati sarapan pagi.   Kini bus rihlah tarbawiyah dengan durasi satu jam tiba di Candi Prambanan  sekira pukul 10.00, Sabtu (18/1/2020).

Saat itu matahari  berdiri kokoh di atas Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang. Cuaca panas tak mematahkan semangat dan antusias para santri  bertadabur mengamati kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi ini. Selain meninjau langsung beberapa candi di sana, mereka juga mengabadikan momen wisata ini dengan berswafoto bersama di depan Candi Prambanan.

Menurut keyakinan agama Hindu Candi Prambanan ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah. Berdasarkan prasasti Siwagrha nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha (bahasa Sanskerta yang bermakna 'Rumah Siwa'), dan memang di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menujukkan bahwa di candi ini dewa Siwa lebih diutamakan.

Candi ini adalah termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil. Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia.

Wisata Goa Pindul dan Tebing Bresik

Wisata di Candi Prambanan berakhir  pukul 11.00. Perjalanan dilanjutkan menuju Gua Pindul yang terletak di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Objek wisatan ini merupakan momen yang paling ditunggu para santri. Di lokasi tersebut para santri akan berpetualang menikmati keindahan alam Goa Pindul.

Rombongan rihlah tiba di Gua Pindul  sekitar pukul 12.30. Sebelum beraksi peserta rihlah dan para pembimbing menunaikan salat jama’ takhir. Setelah itu  tiba saatnya menyusuri Gua Pindul yang dilakukan dengan cara menaiki ban pelampung di atas aliran sungai bawah tanah di dalam gua, kegiatan ini dikenal dengan istilah cave tubing.

 Aliran sungai bawah tanah dimulai dari mulut gua sampai bagian akhir gua, di dalam gua terdapat bagian sempit yang hanya bisa dilewati satu ban pelampung, sehingga semua santri putra dan putri secara terpisah akan bergantian satu per satu untuk melewati bagian ini.  Goa Pindul ini mempunyai panjang sekitar 350 meter dengan lebar 5 meter dan kedalaman air yang mencapai 5-12 meter. Goa ini terbagi ke dalam 3 zona, yaitu zona terang, zona remang, dan zona gelap.

Pertama kalinya, para santri dan pengunjung lainnya  diajak  menjelajahi zona terang yang ada di pintu masuk Goa Pindul. Dikatakan zona terang, karena cahaya matahari masih menerangi sudut-sudut Goa dan membuat keindahan dinding-dinding Goa Pindul masih terasa sangat jelas. Keindahan stalaktit yang menggantung serta ornament-ornamen alam yang begitu indah menjadi daya tarik tersendiri saat menyusuri Goa Pindul

Dan zona kedua, yaitu zona remang merupakan area di mana cahaya matahari yang masuk agak minim. Sehingga pemandangan yang ada di dalam Goa Pindul memang terlihat samar-samar. Di dalam Goa ada pemandu wisata membawa lampu senter untuk menerangi perjalanan. Zona ini dijadikan sebagai ternak burung wallet. Sehingga para santri bisa melihat atas Goa yang berhiaskan rumah-rumah wallet. Selain itu, stalaktit dan stalaktit yang ada di zona ini lebih banyak dibandingkan dengan zona sebelumnya serta dengan berbagai bentuk yang variatif.

Dan di zona terakhir, rombongan rihlah menyusuri lorong yang begitu gelap dan pekat tanpa adanya cahaya sedikitpun yang memasuki goa. Dan di zona ketiga ini, pemandu biasanya akan mematikan lampu dan meminta wisatawan untuk juga tidak menghidupakn penerangan. Sehingga bisa dirasakan sekali bagaimana keindahan alam dari Sang Pencipta yang begitu luar biasa. Setelah itu perjalanan menuju ke pintu luar Goa Pindul. Di tempat terakhir ini sebagian santri memanfaatkan waktu untuk berenang sejenak.

Setelah lelah berpetualang di Gua Pindul, para santri mandi lantas menggati pakain dan kemudian dijamu dengan makan sore di sawung bambo, sambil menikmati pemandangan alam, pegunungan dan persawahan.

Masih ada wisata lain, desetinasi berlangsung ke Taman wisata Tebing Breksi, tempat wisata alam di Jogja. Sesuai dengan namanya, tempat wisata ini merupakan perbukitan batuan breksi. Tebing batuan breksi yang memiliki corak yang indah menjadi daya tarik tersendiri bagi para  wisatawan.

Rombongan rihlah tiba di objek wisata ini waktu menjelang salat isya. Setelah melaksanakan salat jama takhir, seluruh pengurus OPPM dan KGP serta para pembimbing berkumpul di atas puncak tebing. Karena di malam hari, di atas puncak tebing rombongan tour tidak bisa melihat lanskap Candi Sojiwan, Candi Barong dan Candi Prambanan, tak hanya itu kemegahan Gunung Merapi juga bisa dinikmati.

Perkumpulan di atas tebing itu kegiatan diisi dengan evaluasi dan motivasi oleh ustaz Furqon, ustaz Yudi Nurhadi dan Ustaz Andre Manhbuby. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi seluruh rangkaian kegiatan rihlah sekaligus memotivasi para pengurus OPPM dan KGP agar setelah tiba di Pondok memiliki semangat dan optimis memajukan organisasi.

Dari Tebing Breksi, rombongan rihlah menuju sentra pembuatan Bakpia, yakni sejenis kue dengan isi kacang ijo. Ada banyak merek Bakpia yang beredar di Yogyakarta, namun rombongan memilih salah satu merek yang melegenda yaitu Bakpia Pathok 25 yang sudah menjadi pilihan oleh-oleh khas Yogyakarta sejak tahun 1948. Tidak sedikit para santri dan dewan guru membeli oleh-oleh tersebut.

Wisata terakhir, meski tidak termasuk program rihlah, pada Minggu (18/1/2020) rombongan tiba di objek wisata kebun binatang Ragunan Jakarta sekitar pukul 11.30 Wib. Di lokasi ini para santri didamping dewan guru selain menikmati suasana alam juga menyaksikan satwa-satwa. Kegiatan ini kemudian diakhiri dengan makan siang bersama di tepi danau nan indah.

Setelah itu, sore sekira pukul 17.00 Wib, dua bus dari Maha Travel & Tour kembali mengantarkan semua rombongan rihlah tarbawiyah ke Ponpes Manahijussadat ––yang tiba sekira pukul 19.30 Wib. (*) 

 

 

  

Saturday, August 22, 2020

SABRINA MANAHIJUSSADAT; CERPEN; RINDU PULANG

 SABRINA; CERPEN ; RINDU PULANG

RINDU PULANG 

Oleh Neneng Fauziah ­

 

Bila boleh jujur tempat ini seperti penjara.

Atau mungkin neraka karena kian menyiksa jiwa.

Namun, darit empat yang

 kusebut penjara inilah aku belajar

banyak hal yang peringkatnya tidak akan didapat dar iwalikelas.

----(0)----


          “Qila, dipanggil bagian keamanan,”

          Aku yang sedang membaca buku langsung menoleh dengan alis yang mengernyit kebingungan. Aku murid baru, dan ketua kamar bilang, dipanggil ke kantor keamanan?

          “Sur’ah!” bentak ketua kamar menggunakan bahasa arab, artinya cepatlah!

          Aku bergegas untuk pergi ke kantor keamanan dengan suasana hati yang sangat kacau, karena bertanya-tanya apa kesalahanku sehingga dipanggil oleh bagian kemanan pondok.

----(0)----

          Aqila Fauziyah, itu namaku. Usia 11 tahun. Setelah lulus sekolah dasar, aku melanjutkan sekolah di salah satu Pondok Pesantren Modern yang ada di Banten. Menurut orangtua, di sinilah tempat yang tepat untuk anak mereka, pandangan di tempat ini memang terdapat banyak peraturan, tapi mereka percaya bahwa segala peraturan itu untuk kebaikan para santri.

          Enam bulan aku menjalani kehidupan di pondok ini. Di kota santri, kami diwajibkan uuntuk berbicara menggunakan bahasa arab dan bahasa inggris. Hanya dua bahasa itu, selain bahasa itu tidak boleh untuk diucapkan jika kami tidak ingin mendapatkan hukuman.

          Sepanjang waktu menjalani kehidupan, banyak sekali hambatan. Disamping harus menguasai bahasa arab dan inggris dengan cepat, terkadang hati ini sepi sekali. Tak jarang aku menangis, merindukan ibu dan ayah yang sekarang sangat jauh dari tempatku berada.

          “Jawab qila!!!” bentakan bagian keamanan membuyarkan lamunanku.

          Saat ini aku berhadapan dengan tiga orang bagian keamanan dan ketua pengurus di kantor pengurus pondok. Aku hanya menundukkan kepala, deras air mata mulai turun membasahi wajah.

          “Udah, gak usah nangis. Percuma nangis, air mata buaya. Ente mending ngaku aja! Kalo gak punya uang, mending minjem. Kalo ngambil punya orang haram, gak mikir! Gimana kalo orangtua ente tau anaknya maling!” bentak bagian keamanan yang lainnya.

          Aku tersentak, dari awal mereka membentak-bentak dengan kata kasar tanpa hati, menuduh bahwa aku telah mencuri uang di kamar asrama. Sebulan ini memang terjadi kasus kehilangan uang di kamar. Setiap malam, uang yang disimpan di lemari lenyap begitu saja, dan terhitung sekitar 10 sampai 15 ribu dalam satu malam. Ada peraturan yang mengharuskan kami untuk menabung semua uang di bank pondok dan hanya menyimpan duapuluh ribu rupiah saja di lemari kami masing-masing untuk mengantisipasi kehilangan uang dalam jumlah yang banyak.

          Setiap orang di kamar kehilangan uangnya secara bergantian. Sebulan berlalu, terhitung sekitar enam ratus ribu kurang lebih uang yang hilang, dan kami tidak mengetahui siapa pencuri uang tersebut. Termasuk ketua kamar yang lebih senior tidak mengetahuinya. Namun, aku merasa hancur malam ini. Tiba-tiba namaku dipanggil sebagai seorang pencuri, yang bahkan setitik niat untuk melakukannya tidak pernah ada di hati.

          “Gimana ana mau ngaku ukhti, ana gak mau ngakuin kesalahan yang gak pernah ana lakuin!” Bantahku dengan terisak.

          “Ya kalo gak salah, ngapain pake nangis? Biasa aja kali kalo gak ngerasa salah!”

          Ibu, dihadapanku manusia atau bukan? Ia hanya berpikir dengan kemarahannya tanpa didasari logika. Siapa anak berusia 11 tahun yang tidak menangis jika dari menit pertama ia dihujani dengan amarah dan bentakan keras terhadap dosa yang tidak pernah dilakukan? Batinku menjerit.

          “Yaudah, sekarang udah malem. Aqila, kamu bilang aja yang sebenernya. Ini udah larut, kita juga harus sekolah besok pagi, kamu juga. Jadi jangan ngulur waktu. Kamu bilang yang sebenernya ya, kita gak akan marah-marahin kamu lagi kok,” ujar wanita berkacamata yang menduduki jabatan ketua pengurus.

          “Gimana…. Qila, m-mau..ngaku kak…Qila gak nyuri uangnya…bahkan uang Qila…juga…penah…ilang,” Jawabku, isak tangis membuat perkataanku terputus-putus. Pilu rasanya.

          Bukti tidak bisa dikumpulkan, aku hanya bisa menangis semalaman. Berkaca pada diri sendiri, apa dosa yang pernah aku lakukan sehingga tuhan menghukum dengan ujian seberat ini.

----(0)----

          Bel berbunyi, tandanya kami harus pegi ke kelas untuk belajar. Aku bergegas menuju kelas. Dengan cepat, kabar bahwa diri ini adalah pencuri, tersebar  di seluruh pondok. Kaki ini melangkah sendirian, dengan langkah yang gontai tanpa gairah.

          “Eh, Qila! Lu maling duit ya?” Bentak Ana, salah satu teman sekelas. Aku baru saja menghempaskan diri di bangku, sudah harus sarapan bentakan yang menyayat hati. Aku hanya diam.

          “Kalo gak salah, ya gak usah nangis kali Qila,” tambahnya yang kini tiba-tiba duduk di hadapanku. Ana ini asal betawi, blak-blakan menjadi sifatnya, dan ia merasa seolah-olah ia adalah orang yang paling berkuasa.

          “Qila, gua tau lu jarangdijenguk orangtua lu, tapi kalo gak punya duit bilang dong, gua pasti pinjemin kalo gua punya. Tapi lu jangan nyuri!” ujarnya kasar dan begitu nyolot.

          “Aku gak nyuri, jadi tolong, stop nuduh-nuduh aku!” aku menatap tajam mata Ana.

          “Ngapa lu? Nantangin gua? Kalo maling, ya maling aja kali. Gak perlu sok jagoan, mending lu ngaku aja deh, dari pada urusannya jadi rumit entar, mau lu bersumpah kayak gimana juga gak bakal ada yang percaya. Seisi pondok juga udah tau elu malingnya.” Matanya balik menatapku lebih tajam.

          “Eh…. Ada apa ini ribut?” tegur wali kelas yang baru saja datang.

          “Ini ustadz Aqila nyuri uang,” tunjuk Ana padaku, teman-teman seisi kelas yang tadinya ramai dengan bisikan-bisikan  mereka tentang diriku menjadi hening seketika

          “Demi Allah, aku gak nyuri…” timpalku mulai terisak kembali

          “Ya, kalo gak ngerasa jangan pake nangis kali.” Geram Ana.

          Ustaz Palani menatap penuh tanya, apa benar aku sudah mencuri? Sedangkan namaku tercatat sebagai bintang kelas semester kemarin. Mata tajam yang berbinar lembut itu terlihat mencari jawaban pada mataku.

          “Ya sudah, sekarang bukan waktunya untuk itu. Sekarang waktunya belajar, nanti Aqila ke kantor Ustaz, ya,” Ustaz Palani meminta kami untuk kembali belajar.

          Mataku menatap kosong tulisan materi yang mulai ditulis. Otakini tidak bisa mencerna apapun yang disampaikan oleh guru bahasa arab itu. Hati ini masih menjerit tanpa didengar oleh siapa pun. Tidak ada satu pun yang percaya, termasuk kakak sepupuku yang juga santri kelas tiga SMP di situ.

          Semalam, selepas keluar dari kantor bagian keamanan, aku menangis keras dan datang kepada kakak sepupu untuk mengadu atas hal yang terjadi. Bukan kata penenang yang didapat, melainkan bentakan yang lebih kasar dari pada perkataan bagian keamanan.

          Ibu…

          Ayah…

          Tempat macam apa ini?

          Mengapa kalian titipkan aku di tempat seperti ini dalam usia yang sangat dini? Bahkan masa kanak-kanakku belum habis. Apa memang seperti ini, yang namanya kehidupan?

          Jika aku harus terus bersabar, bolehkah aku meminjam pundak kalian? Pundak ini terlalu kecil dan rapuh untuk menanggung beban berat sendirian. Izinkan aku meminjam pundak kalian, setidaknya sampai semua ini bisa dilewati.

          Aku menyerah bu! Apa ibu tahu? Anakmu dicap sebagai pencuri oleh seribu orang lebih di sini. Aku tidak ingin di sini bu!! Bawa Qila pulang!!

          Tulisku pada lembar akhir buku pelajaran.

----(0)----

          “Halo, Assalamualaikum,” sapa suara lembut di ujung sana melalui telepon. Setelah berbincang dengan Ustaz Palani, aku meminta izin menggunakan ponselnya untuk menelepon ayah, santri di sini tidak boleh mebawa telepon genggam yang sudah lumrah dimiliki banyak pelajar. Mendengar suara berat khas miliknya, membuatku refleks menangis.

          “Halo, siapa ini?” suara itu terdengar dua kali.

          “Ayah, ini Qila” aku terisak, membuat ayah terdengar khawatir

          “Qila sakit… sakiit sekali.. jemput Qila, Yah,” aku memohon pada ayah.

          “Sakit apa? Kenapa?” ayah terdengar semakin khawatir.

          “Jemput Qila, Ayah” aku kembali memohon dan masih terisak

          “Ya sudah, besok ayah ke sana,”

          “Sekarang Ayah… Qila gak kuat,” tangisku semakin menjadi.

          “Iya, sekarang.” Setelah ayah berjanji untuk mengunjungiku, aku menutup telepon.

----(0)----

          Ya Allah, apa penawar dari sikaan ini? Aku tercalit pilu dan duka  dirajam kata-kata yang nista. Tertusuk oleh tajamnya setiap pandangan mata. Tersakiti dengan setiap cacian dan cibiran yang menyiksa jiwa. Menanggung beban atas dosa yang tidak pernah kulakukan. Sendirian!

          Aku melara terbiar sepi. Hanya bersama luka dan perih yang menemani. Dengan harapan agar ini segera terlewati.

          Isak tangisku meledak lepas ketika ibu datang dan berhambur memeluknya. Mata ayah dan ibu terlihat berkaca-kaca, hati mereka pedih sekali melihat putri sulungnya menangis keras.

          “Qila, kenapa? Ayo bilang sama ibu,” tanya ibu lembut.

          “Qila ingin berhenti sekolah di sini, Bu. Qila sakit, Bu. Qila gak kuat lagi,” jawabku sesegukan.

          Wanita paruh baya yang kini ku peluk menghela napas berat, lalu mengusap lembut punggung. Ayah memalingkan wajahnya, lalu mengusap pelan matanya. Aku memang tidak pernah menangis keras di hadapan mereka.

          “Qila dituduh mencuri,Bu,” akhirnya kuceritakan segalanya pada ibu dan ayah. Segala yang terucap dari bibir ini membuat keduanya terdiam. Setelahnya, ibu memelukku erat.

          Tangan lembut wanita paruh baya itu menggenggamku erat, matanya berbinar menatapku. “Sayang, ibu percaya kamu kuat. Ibu percaya kamu punya hati yang cantik, yang selalu sabar, yang selalu ikhlas,”

          Ajarkan aku memiliki hati yang cantik itu, Bu, yang bisa sabar dan ikhlas tanpa ada air mata, yang selalu kuat saat ujian melanda. Ajarkan aku cara untuk memilikinya, Bu. Batin ini kian menjerit, tak kuasa menanggung pedih yang ia derita. Lebih dari seribu masyarakat di pesantren ini memandang dengan pandangan yang jijik. Mereka menganggapku kotor. Mereka bergosip tentang diriku. Lalu, bagaimana caranya agar gadis 11 tahun ini tetap menahan beban berat di pundak kecilnya?

          Ayah memelukku erat, aku yakin batinnya menjerit juga saat itu. “Nak, kau ingin menjadi besar? Kau ingin menjadi sukses? Lihat orang besar dan sukses, jalan hidup mereka tidak ada yang mudah. Selalu ada cobaan-cobaan yang terus menghantam mereka. Jangan berhenti, itu artinya kau telah menyerah untuk menjadi orang besar. Karena di mana pun, cobaan dan ujian akan selalu ada.” Terang ayah dengan lembut. “Kamu kuat ya, sayang,”

          Tangisanku berubah menjadi pelan beberapa saat kemudian. “Tapi izinkan aku pulang ibu, ayah, ku mohon. Hanya sebentar saja tak apa, aku ingin pulang,” aku hanya ingin beristirahat sebentar ibu, ayah. Tolong! Batin ini sudah lelah. Biarkan aku pulang. Aku merindukan rumah, tempat yang paling damai. Merindukan  suasana tentram di rumah. Bawa aku pulang!, aku rindu pulang!

          Akhirnya, ayah berbicara kepada pimpinan pondok untuk membawaku pulang, termasuk masalah terkait mengapa aku ingin pulang. Sebenarnya posisi saat ini adalah serba salah. Karena terlanjur buruk di mata ribuan orang, apa pun yang dilakukan hanya akan mendapat nilai buruk. Jika tetap diam di asrama, mereka akan berkata, “gak tau malu yah, udah nyuri, gak tau diri, masih aja di sini,” jika pulang mereka akan mengira bahwa yang mereka tuduhkan kepadaku adalah benar, sedangkan aku tidak punya bukti apa pun untuk membela diri sendiri.

----(0)----

          Ada satu hal, yang menurutku sangat sulit untuk dilakukan. Mudah untuk dikatakan. Namun jika ia dilontarkan, itu artinya hati tak sejalan. Karena, hal tersebut tidak ada pada mulut. Hal tersebut hanya ada dalam hati. Hanya dirinya, dan tuhan yang mengetahui. Itulah, IKHLAS.

          ”Qila…” panggil salah satu kakak kelas yang satu kamar denganku, aku memang telah kembali ke asrama setelah menghabiskan waktu tiga hari di rumah untuk menenangkan diri dan mengalihkan pikiran.

          “Iya ukhti, limadza?”[1] sahutku setelah merapikan baju di dalam lemari.

          Gadis satu tahun lebih tua yang bernama Tari itu duduk di sampingku. “Ika disidang bagian keamanan,”

          Pernyataannya membuat dahiku mengerut kebingungan.  “lho emang ada kasus apa?” tanyaku kebingungan.

          “Kemarin sore, dia kepergok ngambil uang di lemari Ina sama ketua kamar. Awalnya disidang sama ketua kamar, dia gak mau ngaku. Akhirnya, semalam disidang ketua sama bagian keamanan, akhirnya ngaku. Dia juga yang udah fitnah kamu. Dia yang bilang ke ketua kamar bahwa dia liat kamu ngambil uang di lemari Tia, akhirnya ketua kamar laporin kamu ke bagian keamanan.”

          Aku terdiam mendengar penuturan kak Tari. Hati ini bimbang antara senang dan marah. Senang karena terbebas dari cap “maling” yang tidak pantas didapat. Sangat marah karena gadis bernama Ika telah menghancurkan dan mencoreng nama baikku.

          Ingin sekali rasanya tanganinimenampar wajahnya, dan bertanya, apa salahku kepadanya sehingga ia tega melakukan ini?

          Setelah semalam disidang, ternyata  Ika pulang dan pindah sekolah. Orang bilang ia ketakutan. Setelah ia pulang, aku menerima permintaan maaf dari teman satu kamar, juga ketua kamar. Sebagian dari para santri hanya memandangku dengan perasaan bersalah, lalu sungkan untuk meminta maaf.

          Pelaku yang memfitnah, pergi tanpa sepatah kata maaf. Sejak saat itu, aku  mengalami trauma terhadap bentakan keras. Walau bukan ditujukan untuk diriku,mataini akan menangis keras jika mendengarnya.

          Di mana pun kamu berada sekarang, Ika. Jika kita bertemu, aku tidak akan memarahimu, tidak pula akan memandangmu penuh kebencian. Diri ini hanya ingin berterimakasih, karena telah melatih mentalnya saat usia dini. Karenamu, ayah mengajarkan bahwa jalannya orang hebat tidak mulus, dan kata itu terpatri sejak usia itu. Sulit untuk melupakan kejadian ini, namun aku telah memaafkanmu. Semoga cerita ini, dapat menjadi pelajaran bagi mereka yang membaca. Pelajaran yang tidak akan mereka dapatkan di dalam kelas.

Penulis adalah Alumni Ponpes Manahijussadat Angkatan 2015



 

Wednesday, August 19, 2020

ORGANISASI PELAJAR PESANTREN MANAHIJUSSADAT (OPPM) SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER

ORGANISASI PELAJAR PESANTREN MANAHIJUSSADAT (OPPM) SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER

Oleh Eef Alimudin

Bagi saya Pondok pesantren adalah laboratorium yg membentuk manusia agar menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, berkarakter dan berpegang teguh pada ajaran Islam. Meski sebenarnya awal saya masuk pondok pesantren, tidak banyak yang saya harapkan,saya tidak terfikir untuk menjadi kyai ataupun pendakwah, saya juga tidak terfikir masukpondok agar hafal Al-Qur'an atau hafal banyak hadits. 

Adapun yang menjadi alasan saya memutuskan untuk mau masuk pondok pesantren adalah karena melihat sarana olahraganya. Itu adalah alasan saya, dan saya yakin ratusan santri yang masuk ke pondok pesantren pun mempunyai banyakan alasan yang berbeda. Walaupun pintu alasan setiap calon santri berbeda, saat menjadi santri kita memiliki pola yang sama, kegiatan yang sama, karena kita dibentuk untuk tujuan yang sama, seperti yang  saya sebut di atas,  yaitu menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, berkarakter dan berpegang teguh pada ajaran islam.


Berbicara pembentukan karakter, di pondok banyak sekali kegiatan yang secara sadar atau tidak kita sadari membentuk karakter kita sehingga saat lulus nanti kita mampu bersaing baik secara skill maupun pemikiran. Kaerna kegiatan di pondok mengasah semua jenis kecerdasan manusia, yang di antara kecerdasan itu adalah : Kecerdasan linguistik, logika, musical, interpersonal, intrapersonal, spasial, natural, kinestetik, spiritual dan action. Untuk penjelasan Kecerdasan-kecerdasan itu dan juga keterkaitannya dengan kegiatan pondok saya akan bahas pada tulisan majalah Sabrina edisi selanjutnya.

OPPM adalah masa yang paling membentuk karakter diri saya. Why?, jawabannya akan sy ceritakan dengan kisah saya agar lebih mudah dipahami. Setiap santri pasti akan mendapatkan masa untuk diberi amanah untuk mengatur segala lini kehidupan santri, ya, itulah OPPM. Tepatnya, tahun 2011 saat itu saya kelas lima saya diberikan amanah untuk menjadi Ketua OPPM rangkap bagian bahasa. Detik itu juga saya tak lagi boleh hanya memikirkan diri sendiri. Saya harus peduli dan memikirkan diri sendiri, santri, anggota pengurus OPPM, juga memikirkan pondok.


Dengan itu, tentu aktivitas dalam keseharian kita lebih padat, mulai dari pagi kita membangunkan santri untuk sholat subuh, mangatur jalannya muhadatsah, mengontrol agar santri semua berangkat sekolah, mengontrol agar santri berbahasa arab atau Inggris, mengatur pengambilan makan, kita sendiripun harus sekolah, usai itu mengadakan muhadoroh, tasjiullugoh, pembagian bulis, membentuk club-club (club bahasa, club perpustakaan, dll), Rapat pengurus, konsultasi ke pimpinan, dan tugas lainnya. Hal itu saya lakukan setiap hari sehingga hal itu tertanam dalam alam bawah sadar saya, yang akhirnya saat setelah lulus, saya terbiasa dengan banyaknya aktivitas.

Keseharian saya di masa perkuliahan pun juga padat, 1 hari saya bisa mengerjakan banyak hal, pagi saya berwirausaha, kuliah, kegiatan organisasi, sore ngajar les, malam kuliah lagi, rapat, di hari libur saya ambil freelance, diskusi, pelatihan, seminar, event, MC, dan lain-lain. Sebanyak kegiatan itu bisa saya kerjakan karena sudah terbiasa mengerjakan banyak hal di pondok khususnya masa-masa menjadi OPPM, dan yang terpenting semua kegiatan itu bisa saya kerjakan dengan penuh tanggung jawab, lagi-lagi karena saat masa OPPM kita di bentuk menjadi pengurus yang bertanggung jawab.

Finally, sebenarnya kita harus tahu manfaat dari semua apa yang kita kerjakan, santri harus sadar manfaat muhadoroh, karena di luar sana menjadi MC acara atau nikahan bisa dibayar mahal hanya beberapa jam. Pengurus OPPM dan KGP harus sadar manfaat mengatur Panggung Gembira, Lomba-lomba, drama competition dan lainnya. Karena di luar sana menjadi pengatur acara (seminar, konser, dan lain-lain) bisa dibayar mahal dalam 1 hari. Intinya, kita bisa membiasakan diri dan melatih diri di pondok, ambil kesempatan itu dan jangan mau dipecundangi kemalasan, jangan mau dilemahkan konflik, karena konflik di kepengurusan membuat kita tumbuh.

Sadari manfaat dari setiap apa yang akan kita kerjakan, agar kita dapat mengerjakannya dengan penuh semangat dan antusias, dan setiap kegiatan di pondok memiliki banyak manfaat. Lakukan semuanya dengan penuh kesadaran. Semangat santri.  Tulisan ini dari santri untuk santri. Terimakasih, Wassalamualaikum.(*)

 Penulis adalah Ketua OPPM Masa Bakti 2011-2012. Sekarang berkhidmat sebagai  Wirausahawan, publik speaker, MC, teacher, Fasel, dan trainer.

 

PELATIHAN BUDIDAYA TERNAK SAPI DI PONDOK PESANTREN MODERN MANAHIJUSSADAT

Late Post 

PELATIHAN  BUDIDAYA TERNAK SAPI

Pimpinan Pondok Drs KH Sulaiman Effendi, M.Pd.I (tengah) bersama nara sumber dalam acara Pelatihan Budidaya Ternak Sapi di aula Cordova Ponpes Manahijussadat, Selasa (24/9/2019).

Kemandirian pondok Pesantren Khususnya dalam bidang ekonomi mutlak dilakukan untuk menunjang pembangunan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak bergantung kepada bantuan pemerintah. Ada banyak potensi ekonomi di pondok pesantren yang bisa diberdayakan dan sangat berpeluang sangat besar  berkontribusi untuk pembangunan pondok. Potensi–potensi itu selama ini belum tergali dengan baik sehingga harus ada stimulus agar potensi ekonomi tadi bisa digali dan dikembangkan.

Pondok pesantren Manahijussadat memanfaatkan salah satu peluang pengembangan kemandirin ekonomi pesantren dengan peternakan sapi yang sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu. Perkembangan ternak sapi pondok selama sangat bagus khususnya untuk hari raya idul adha yang jumlah permintaanya setiap tahun semakin meningkat. Peluang ternak sapi ini belum banyak dikembangkan, padahal potensinya sangat besar dan prospek kedepan sangat menjanjikan .


Dari kebesahasilan pondok pesantren Manahijussadat dalam mengelola ternak sapi ini, Bank Indonesia berkerjasama dengan BPPT provinsi Banten mengadakan pelatihan budidaya ternak sapi untuk pondok-pondok pesantren sekitar Banten khususnya di kabupaten Lebak.

Pondok Pesantren Manahijussadat dipercaya  oleh Bank Indonesia untuk menjadi fasilitator dan bekerja sama dalam memfasilitasi pondok–pondok lain untuk memanfaatkan peluang peternakan sapi ini agar berkontribusi bagi pondok secara ekonimi dan bisa tumbuh kembang denga baik sehingga dengan demikian dari hasil usaha peternakan sapi tersebut bisa menopang kegiatan dan pembangunan pondok

Acara yang berlangsung dua hari sejak Selasa sampai Rabu (24-25/9/2019) itu diisi dengan pelatihan budidaya ternak sapi dengan nara  sumber dari BPPT Banten yang dibagi menjadi dua sesi. Hari pertama kegiatan dilangsungkan di aula Cordova ponpes Manahijussadat. Materi yang disampaikan berupa pemaparan teori–teori  baik peluang usaha ternak sapi, pengenalan macam-macam jenis sapi sampai kendala-kendala yang dihadapi dalam bertenak.


Sedangkan hari kedua praktik di lapangan yaitu di kandang sapi Pondok Pesantren Manahijussadat. Pada sesi ini para peserta diajarkan bagaimana  membuat pakan sapi yang baik dan dengan berbagai macam jenis pakan bahkan dari berbagai macam rumput yang digunakan untuk pembuatan makanan sapi.


Acara pelatiahn ini diikuti  20  peserta yang berasal dari dalam pondok–pondok sekitar Kabupaten Lebak. Nama-nama pondok yang mengikuti kegiatan pelatihan yaitu: Pondok Pesantren Daarel Azhar Rangkasbitung dan Pondok Pesantren Darul Musyaffa Warunggungung Lebak. Sedangkan sisanya berasal dari dalam pondok Pesantren Manahijussadat yang berasal dari tukang 3 orang, 1 orang ustadz dan sisanya dari kelas 5 dan 6. Para peserta pelatihan terlihat antusian mengikuti petihan dan menjadi pengalaman baru khususnya dalam bidang peternakan. (/* Fanur)

Tuesday, August 18, 2020

MAKLUMAT PIMPINAN PONDOK PESANTREN MODERN MANAHIJUSSADAT

MAKLUMAT PIMPINAN PONDOK PESANTREN MODERN MANAHIJUSSADAT

Serdang, 17 Agustus 2020

Diharapkan kepada semua orangtua/wali santri, alumni, tamu atau siapapun  agar sementara tidak berkunjung ke Pondok Pesantren Modern Manahijussadat sampai batas waktu yang ditentukan. Ini semua untuk melindungi dan menjaga putra/putri kita (santriwan/santriwati), guru dan keluarga besar yang berada di dalam lingkungan Pondok Pesantren Modern Manahijussadat dari resiko penyebaran Corona Virus Disiese (Covid-19).

Bagi yang berkepentingan bisa melalui rekening, paket, dll.

Demikian, terima kasih atas perhatian dan maklum adanya.